INFORMASI OBAT HERBAL MATA ALAMI INI COCOK UNTUK ANDA ATAU KELUARGA ANDA YANG SAAT INI SEDANG MENGALAMI GANGGUAN MATA AKIBAT DIABETES DAN DARAH TINGGI

DALAM ISTILAH MEDIS DISEBUT GANGGUAN MATA RETINOPATI

BISA KARENA DIABETES (Retinopati DIabetik)

BISA KARENA NON DIABETES (Retinopati Non Diabetik) biasanya timbul akibat Hipertensi atau Darah Tinggi

 

Kami Bahas Satu-Satu Apa dan Bagaimana Gangguan Mata Retenopati Ini Terjadi Pada Seseorang?

 

Penyakit diabetes (kencing manis) bisa menyebabkan berbagai gangguan mata yang serius, diantaranya katarak, glaukoma, retinopati dan mata rabun yang sangat parah. Oleh karena itu, apabila Anda menderita diabetes, selain kami memberikan obat herbal untuk mengatasi masalah mata Anda, (apabila diperlukan) kami juga memberi obat herbal untuk mengatasi diabetes.

 

Gangguan penglihatan karena diabetes biasanya menyebabkan lensa mata keruh, kekentalan cairan bola mata yang berubah-ubah   dimana penderita mengalami perubahan ukuran yang cukup drastis dalam tempo atau waktu yang cukup cepat. Misalkan hari ini diketahui  ukuran refraksinya -2  mengalami diabetes sampai tingkat 200 maka dalam tempo 3 hari ketika tingkat gula darahnya turun sampai level 150 biasanya ukuran refraksi akan drastis berubah secara tidak menentu, misalkan menjadi +1 atau -0,5.

Kami sarankan bagi Anda yang memiliki masalah mata dan menderita diabetes, janganlah membeli sepasang kacamata baru bila pandangan Anda menjadi kabur secara tiba-tiba. Mengapa begitu? Karena sesungguhnya kaburnya mata Anda adalah tanda bahwa kadar gula darah Anda sedang tinggi.

Gula darah tinggi pada diabetes menyebabkan lensa mata membengkak, sehingga penglihatan menjadi kabur. Daripada membeli kacamata, sebaiknya Anda memeriksakan kadar gula darah Anda dan usahakan agar kadar gula Anda stabil. Silakan konsultasikan dengan dokter Anda untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai kondisi kesehatan Anda.

Penglihatan kabur juga merupakan gejala awal dari masalah mata yang lebih besar ketimbang diabetes itu sendiri.

Tiga masalah mata besar yang sering terjadi pada penderita diabetes adalah katarak, glaukoma, dan retinopati diabetik.

1. Retinopati diabetik

Retinopati diabetik merupakan salah satu komplikasi serius diabetes, berupa kerusakan pembuluh darah kapiler pada jaringan yang berfungsi sebagai sensor cahaya (retina).Perjalanan Penyakit Pada penderita diabetes, terjadi peningkatan kadar gula darah di atas nilai normal. Jika keadaan ini berlangsung lama, maka akan timbul berbagai komplikasi. Salah satunya adalah gangguan pembuluh darah kapiler pada retina mata. Gangguan tersebut berupa melemahnya dinding pembuluh kapiler. Selanjutnya, dinding pembuluh akan menggembung membentuk suatu struktur yang disebut mikroaneurisma. Lama kelamaan, pembentukan mikroaneurisma akan diiringi dengan penyumbatan pada pembuluh kapiler.Penyumbatan kapiler akan merangsang tubuh untuk membuat pembuluh darah baru, tujuannya agar kebutuhan nutrisi retina tetap dapat terpenuhi. Sayangnya, pembuluh baru ini sangat rapuh. Saat pembuluh pecah, maka akan terjadi perdarahan yang dapat menimbulkan kekaburan penglihatan, bahkan kebutaan.GejalaPada tahap awal, retinopati diabetik umumnya tidak menimbulkan gejala berarti. Kalaupun ada, biasanya hanya gejala ringan. Tetapi, jika gula darah terus menerus tidak terkontrol dan tindakan pencegahan tidak dilakukan, maka pada akhirnya akan timbul berbagai gejala seperti :

– Bintik mengambang (floater) pada lapangan pandang.

– Titik gelap pada bagian tengah lapangan pandang.

– Kesulitan melihat di malam hari.

– Penglihatan kabur, atau bahkan kebutaan.

Bagiaman Pengobatannya?

Hal pertama dan penting untuk pengobatan adalah mengontrol kadar gula darah sehingga tetap berada dalam rentang nilai normal. Dengan demikian, keparahan penyakit dapat dihindari. Selain kami anjurkan pasien untuk terus menjaga diet makanan, kami sarankan pasien untuk mengkonsumsi kapsul herbal untuk mengatasi penyakit diabetesnya. Kita semua tahu bahwa diabetes memang tidak bisa disembuhkan secara total, tapi penyakit ini bisa ditekan efek sampingnya atau dijaga supaya tidak semakin parah dan penderita bisa hidup dengan cukup sehat.

Pada retinopati yang mengalami perdarahan dapat dilakukan focal laser treatment untuk menghentikannya. Selain itu, terapi laser lain seperti scatter laser treatment dapat membantu mengecilkan pembuluh darah yang baru terbentuk.Jika perdarahan banyak, dapat dilakukan operasi untuk membuang darah tersebut. Tindakan ini disebut vitrektomi.

 

Bagaimana Pencegahannya?

Untuk mencegah timbulnya atau memberatnya retinopati diabetik, beberapa langkah dapat ditempuh, antara lain :

1. Menerapkan gaya hidup sehat yaitu dengan makan makanan yang dianjurkan bagi penderita diabetes, berolahraga teratur, tidak merokok, hindari stress, dll.

2. Mengecek kadar gula darah secara rutin untuk mengontrol kadar gula.

3. Memeriksakan mata secara teratur setiap tahun. Manfaatnya adalah mengetahui perkembangan retinopati diabetik. Dengan demikian dapat dilakukan antisipasi agar penyakit ini tidak semakin parah. Pada tahap dini, retinopati diabetik relatif lebih mudah dikendalikan.

 

2. Hipertensi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu kelainan yang diakibatkan oleh peninggian tekanan darah sedemikian rupa sehingga mengakibatkan gangguan-gangguan pembuluh darah dan jantung (vaskuler) pada organ-organ tubuh. Tekanan darah terdiri dari tekanan pompa jantung (sistolik) dan tekanan isi jantung (diastolik). Untuk menilai tekanan darah umumnya yang digunakan adalah tekanan diastoliknya (normal, 80 mm Hg) tanpa mengabaikan tekanan sistoliknya (normal, 120 mm Hg).

Batasan untuk menentukan ukuran hiper-tensi masih belum ada kesepakatan mutlak, karena besarnya tekanan sistolik, tekanan diastolik, usia, jenis kelamin dan ras. Misalnya seorang pria dengan tekanan diastolik normal tapi tekanan sitoliknya tinggi mempunyai kecenderungan menderita penyakit kardiovaskular yang lebih besar dibandingkan individu-individu lain yang tekanan diastoliknya sama-sama normal tapi tekanan sistoliknya juga normal. Dalam keadaan ini tekanan sistoliknya turut menentukan batasan tekanan darahnya. Walaupun demikian untuk membuat klasifikasi hipertensi demi kepentingan tertentu “The Joint National Treatment of High Blood Pressure (AS)”, membagi hipertensi dalam 3 golongan berdasarkan tingginya tekanan diastolik saja sebagai berikut:

  1. Hipertensi ringan, bila tekanan diastolik 90-104 mm Hg.
  2. Hipertensi sedang, bila tekanan diastolik 105-114 mm Hg.
  3. Hipertensi berat, bila tekanan diastoliknya diatas 114 mm Hg.

 

Frekuensi penderita tekanan darah tinggi belum dapat dihitung dengan pasti karena dipengaruhi oleh ras, kriteria hipertensi, tempat pemukiman dan lain-lain, tetapi diperkirakan jumlahnya sekitar seperlima dari populasi.

Pengaruh hipertensi pada sistem vaskuler tubuh bervariasi jika dilihat dari berat dan lamanya hipertensi. Hipertensi ini dapat berpengaruh pada jantung, ginjal, saraf pusat dan mata.

Tulisan ini bertujuan untuk mengutarakan pengaruh hipertensi pada salah satu organ tubuh seperti yang telah disebutkan diatas yaitu pada organ mata yang kiranya bisa merupakan suatu tambahan pengetahuan yang dapat diterapkan dalam menghadapi kasus-kasus penyakit mata karena pengaruh hipertensi ini pada kehidupan sehari-hari.

Metode yang digunakan dalam penulisan ini didasarkan pada publikasi-publikasi dan pengalaman-pengalaman tentang pengaruh hipertensi pada mata selama ini.

 

Pengaruh Hipertensi Pada Mata

Hipertensi dapat menyebabkan beberapa gangguan atau kelainan pada mata seperti gangguan otot-otot penggerak bola mata, oklusi pembuluh darah retina (sumbatan), perdarahan corpus vitreus, kelainan pada mata (retina) yang disebut retinopati.

 

  1. Gangguan otot-otot penggerak bola mata

Gangguan otot-otot penggerak bola mata terjadi karena kelumpuhan saraf otot penggerakbola mata tersebut terutama Nervus VI dan akibatnya terjadi penglihatan ganda (diplopia).

 

  1. Oklusi pembuluh darah retina

Hipertensi dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah pada lapisan saraf bola mata (retina) baik pada pembuluh nadi (arteri) maupun pembuluh balik (vena). Oklusi dapat terjadi karena penyempitan pembuluh darah karena hipertensi ini dan dapat tertutup mendadak karena adanya emboli.

Oklusi arteri retina sentralis (OARS) akan menyebabkan tajam penglihatan mendadak kabur dengan mata tenang. Tindakan yang dilakukan umumnya tidak banyak menolong. Demikian juga pada oklusi vena (OVRS), penglihatan mendadak turun tergantung daripada lokasi oklusi pada percabangan vena yang merusak jaringan retina. Oklusi vena lama akan mengakibatkan terjadinya neovaskularisasi  pre retinal. Neovaskularisasi ini amat rapuh, mudah berdarah dan kadang-kadang darah masuk ke corpus vitreus. Tindakan yang dilakukan belum ada yang memuaskan dan umumnya diberikan obat-obat simptomatis.

 

  1. Perdarahan corpus vitreus (badan kaca)

Perdarahan corpus vitreus akan menyebabkan tajam penglihatan (acies visus) mendadak turun dengan mata tenang, terjadi karena darah masuk ke dalam corpus vitreus mengikuti pecahnya neovaskularisasi pre renital.

 

  1. Retinopati hipertensi

Hipertensi dapat menyebabkan kelainan pada retina yang disebut dengan retinopati hipertensi. Retinopati hipertensi ini merupakan gangguan yang sering terjadi oleh hipertensi pada mata. Kelainan yang terjadi dapat bervariasi yang semuanya berpengaruh terhadap terapi umum dan prognosis hipertensi. Retinopati hipertensi adalah kelainan-kelainan yang terjadi pada retina (yang merupakan suatu jaringan syaraf) karena perubahan-perubahan pada pembuluh darah retina akibat hipertensi tersebut. Kelainan-kelainan ini dapat dilihat menggunakan oftalmoskopdirek  (instrumen untuk melihat retina) dan untuk melihat lokasi retina yang lebih luas dengan menggunakan oftalmoskop inderek. Mekanisme terjadinya retinopati ini sampai sekarang masih belum pasti dan terus ditelitindan disempurnakan tetapi dihubung-hubungkan dengan hipoksi (kekurangan oksigen) jaringan retina.

 

Kelainan-kelainan pada retinopati adalah sebagai berikut:

  1. Perubahan-perubahan pembuluh darah dapat berupa:

a.) Penebalan dinding arteri

Arteri-arteri menyempit, kaku irreguler, berkelok-kelok dengan percabangan yang tajam karena penyempitan lumen (vasokonstriksi) yang diikuti oleh hipertrofi otot polos dinding pembuluh darah. Bila hipertensi lebih berat dan belangsung lebih lama akan terjadi arteriosklerosis.

b.) Refleks cahaya arteri

Refleks cahaya arteri bisa berkesan seperti warna perak yang disebut “silver wire” atau mungkin seperti warna tembaga yang disebut “copper wire”. Refleks ini terjadi karena penebalan dinding arteri.

c.) Silang arteri-vena

Ditempat-tempat persilangan arteri dengan vena terjadi perubahan-perubahan yang disebut fenomena silang arteri-arteri-vena (crosing phenomene). Pada persilangan ini nampak vena seperti terputus oleh arteri yang menebal dan kaku.

 

Perdarahan

Bila hipertensi lebih berat dan berlangsung lebih lama dapat terjadi perdarahan yang berasal dari kapiler-kapiler yang rapuh dilapisan permukaan atau lapisan dalam retina. Bentuknya mengikti lapisan-lapisan retina tempat terjadinya perdarahan, tapi biasanya berbentuk linier dan lidah api (flame shaped). Pada pengobatan hipertensi yang adekuat perdarahan dapat diabsorbsi dalam waktu 3 bulan, biasanya tidak meniggalkan sisa (bila ada sisa nampak berupa eksudat keras).

 

Eksudat keras

Eksudat keras tampak berwarna putih kekuningan, berkilat, terbentuk dari kumpulan sel-sel besar pemakan benda abnormal (makrofag-makrofa) yang berisi lipid. Eksudat keras bisa juga merupakan sisa perdarahan atau sisa ederma retina. Eksudat-eksudat keras ini bisa bertambah banyak dalam minggu-minggu pertama dan umumnya berangsur-angsur akan hilang dalam waktu sekitar satu tahun, “terletak di lapisan plexiform luar” biasanya disekitar “papil N II” dan bintik kuning (makula). Daerah makula kadang-kadang bentuknya seperti bintang karena mengikuti susunan serabut saraf yang bentuknya radier.

 

Eksudat lunak

Eksudat lunak bentuknya seperti kapas wol sehingga disebut “cotton wool spots”. Terjadi karena oklusi arteriol pre retina  yang mengalami tanda kematian jaringan pre infak. Eksudat ini timbul dalam 2-3 hari setelah terjadi iskemi akut, dapat diabsorbsi sendiri dalam 1-3 bulan tanpa meninggalkan sisa. “Cotton wool spots” menunjukkan bahwa hipertensi tidak terkontrol dam merupakan suatu petunjuk tentang kemungkinan terjadinya kerusakan pembuluh darah yang serupa pada organ tubuh lain terutama ginjal dan otak.

 

Edema retina

Edema retina tampak seperti gambaran berwarna kelabu, agak mengkilap dan difus. Terjadinya karena rembesan cairan dari pembuluh darah, dan tampak jelas disekitar makula dan papil N II. pada toksemia gravidarum bisa terjadi sangat cepat sehingga dapat menyebabkan lepasnya retina (ablasi). Dengan adanya edema retina ini bisa merupakan salah satu petunjuk hipertensi yang progresif atau hipertensi maligna.

 

Papil edema

Edema papil (sembab papil) pada papil edema karena hipertensi ini tidak sejelas seperti papil edema umumnya yang disebabkan oleh peningkatan tekanan intra kranial. Terjadinya karena infark dan hipoksia papil N II. Bila tekanan darah sudah normal edema akan hilang dalam beberapa minggu tetapi batas papil tetap kanur. Edema yang berat dan lama bisa mengakibatkan degenerasi (atrofi) papil sekunder dan gangguan penglihatan yang berat. Papil edema pada hipertensi ini merupakan petunjuk terjadinya hipertensi maligna (1% dari seluruh penderita) dan ini memerlukan tindakan segera untuk menghindarkan komplikasi umum yang lebih buruk

 

Sesuai dengan kelainan yang ditemukan pada retina dan dihubungkan pada keadaan hipertensinya maka retinopati hipertensi ini dapat dikelompokkan dalam beberapa stadia. Salah satu penggolongan (klasifikasi) yang umum digunakan oleh dokter spesialis mata dan penyakit dalam dikemukakan oleh Keith, Wagener dan Barker yang disebut klasifikasi Keith-Wagener-Barker seperti dibawah ini.

 

Stadium I

Pada stadium ini ditemukan penyempitan arteriol sedang, vasokonstriksi lokal, dan refleks arteri “copper wire” dan atau “silver wire”. Kelainan ini gambarannya amat tidak spesifik sehingga sering sukar dibedakan dengan gambaran vundus biasa. Penderita biasanya menderita hipertensi ringan.

 

Stadium II

Pada stadium ini penyempitan arteri nyata vasokonstriksi lebih luas atau menyeluruh, mulai ditemukan venomena persilangan AV, eksudat keras bersinar dan perdarahan kecil-kecil. Penderita pada keadaan ini mempunyai tekanan darah yang terus meninggi dan umumnya pada hipertensi sedang tetapi kesehatan umumnya masih baik.

 

Stadium III

Pada stadium ini mulai tampak edema retina, perdarahan yang lebih besar, eksudat lunak (cotton wool spots) dan bisa disertai oklusi cabang vena retina (OVRC). Kelainan -kelainan ini menandakan penderita mengalami hipertensi sedang dan berat.

 

Stadium IV

Pada stadium ini ditemukan kelainan-kelainan seperti yang ditemukan pada stadium III dan disertai papil edema. Keadaan ini didapatkan pada penderita hipertensi berat yang lama.

Dari bahasan diatas ternyata hipertensi dapat menyebabkan pengaruh luas diseluruh organ tubuh termasuk organ mata. Pengaruh hipertensi pada mata dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Gangguan otot penggerak bola mata yang menyebabkan diplopia (melihat ganda).
  2. Sumbatan pembuluh darah retina yang mengakibatkan tajam penglihatan buruk sekali.
  3. Perdarahan badan kaca yang mengakibatkan tajam penglihatan kabur.
  4. Retinopati hipertensi yang merupakan kelainan-kelainan yang terjadi pada retina karena hipertensi.

Retinopati hipertensi dapat merupakan gangguan-gangguan pada mata dan yang terburuk adalah gangguan tajam penglihatan yang pada keadaan tertentu bisa buruk sekali. Gangguan tajam penglihatan ini dapat terjadi karena gangguan pada daerah makula retina oleh sebab edema, perdarahan dan eksudat, oklusi arteri dan vena, perdarahan badan kaca dan atrofi papil N II. Tingkatan retinopati secara praktis dapat merupakan petunjuk untuk mengetahui komplikasi-komplikasi hipertensi pada ginjal, jantung dan saraf pusat. Selain itu dapat juga memperkirakan mortalitas dari penderita. Khusus mengenai hubungan antara stadia-stadia retinopati hipertensi dengan kemungkinan mortalitas seperti yang telah dikemukakan oleh beberapa pengamat dan hal ini amat menarik untuk dikaji dan diteliti lebih lanjut.

Untuk menghindarkan keburukan-keburukan yang terjadi akibat retinopati hipertensi khususnya dan hipertensi umumnya diagnosisnya perlu ditegakkan secara dini dan diikuti dengan pengobatan yang semestinya dan diperiksa ulang yang teratur.

 

  1. Retinopati hipertensi pada kehamilan yaitu retinopati yang terjadi pada hipertensi kehamilan yaitu retinopati yang terjadi pada kehamilan yang abnormal pada toksemia gravidarium. Gejalanya hampir sama dengan retinopati hipertensi biasa dan hanya ada perbedaan sedikit dalam penebalan dan kekakuan pembuluh darahnya. Biasanya retinopati pada kehamilan ini akan membaik spontan dalam tempo 10-14 hari setelah melahirkan.

 

Sampai saat ini, sudah terbukti Obat Formula Eye untuk Mata Retinopati bisa membantu penderita diabetes yang mengalami KATARAK ataupun GLAUKOMA. Sedangkan untuk masalah retinopati, Obat Formula Eye untuk Mata Retinopati ini berfungsi sebagai terapi penunjang, bukan terapi utama dan satu-satunya yang Anda andalkan. Jika Anda mengalami retinopati yang sudah sangat parah, kami sarankan Anda menghubungi dokter mata untuk pertolongan lebih lanjut.

Dari sekian banyak pasien penderita diabetes dan retinopati yang menggunakan Obat Formula Eye untuk Mata Retinopati, sebagian besar dari mereka menyatakan ada kemajuan berarti bahkan sembuh 98% setelah menggunakan Obat Formula Eye untuk Mata Retinopati, dibandingkan hanya mengikuti pengobatan yang disarankan oleh dokter.

Demikian kami beritahukan apa adanya kemampuan kami supaya Anda tidak salah dalam menjalani perawatan mata. Kami tidak ingin melebih-lebihkan kemampuan kami atau manfaat Obat Formula Eye untuk Mata Retinopati, karena kami peduli dengan kesehatan Anda.